Mengulik 3 Wisata Unggulan Demak: Pantai Morosari, Makam Syech Mudzakir dan Hutan Mangrove

Mengulik 3 Wisata Unggulan Demak- Pantai Morosari, Makam Syech Mudzakir dan Hutan Mangrove

Worrying gets you nowhere – Trinity, The Naked Traveler 3

Penyemangat kala nggak ada temen yang bisa diajak jalan-jalan salah satunya saya dapat dari penggalan kalimat Trinity di bukunya The Naked Traveler 3. Kalo nungguin temen hanya untuk dapat menghabiskan waktu liburan yang mungkin sesingkat pesan sms, kamu nggak bakalan bisa pergi kemanapun. Nunggu jadwal yang mungkin cocok juga harus itung-itungan banget pake statistika. Kira-kira berapa peluangnya bisa cuti dalam waktu bersamaan? Kamu bisa dapat cuti tapi teman kamu enggak. Giliran punya waktu libur, eh liburnya pas tanggal merah. Jalan-jalan jadi kurang greget dan damai karena pasti ramai.

Serba salah juga karena ketika liburan sendiri setiap sampai lokasi selalu ditanya, ‘sendirian mbak?’ Antara bangga karena berani jalan-jalan sendiri tapi juga sedih dikira ‘Ini anak punya temen kagak sih kok jalan sendiri kayak orang ilang?’. Tanggapan saya selalu sama setiap kali ditanya seperti itu, ‘Iya, hehe.” Selesai.

Salah satu penyebab saya sering jalan-jalan sendiri adalah sifat saya yang impulsif. Suka nggak terduga kalo ingin melakukan sesuatu. Kalo pengin jalan sekarang ya sekarang, nungguin besok ada temen udah rusak mood jalan-jalannya. Seperti beberapa hari lalu saat pergi ke Demak, saya seorang diri naik motor kesana. Niatnya memang bertamu ke rumah salah satu teman, nginap sehari lalu pulang. Jauh-jauh dari Semarang masak perjalanan saya cuma mampir ke rumah teman tanpa jalan-jalan? Saya putuskan saat pulang sekalian mampir ke Wisata Morosari. Salah satu wisata di daerah Sayung, Demak yang dikembangkan oleh Pemda setempat.

Sebelumnya, saya pernah kesana waktu sore hari, menangkap senja bersama seorang kawan. Tapi kali ini saya hanya sendiri menunggu pagi untuk melihat mentari. Karena berangkat pagi, saya jadi punya waktu lebih banyak untuk mengeksplore wisatanya. Kalo dulu hanya sempat menangkap senja, sekarang jalan-jalan saya jadi lebih berkualitas karena tahu info sejarahnya juga banyak berbincang dengan warganya. Dalam blog ini akan saya bahas 3 tempat wisata unggulan yang bisa dikunjungi di Wisata Bahari Morosari lengkap dengan sejarahnya.

Wisata Bahari Pantai Morosari

Lokasi Wisata Bahari Pantai Morosari berada di Jl. Semarang – Demak km. 9. Kalo dari arah Semarang setelah melihat gapura Selamat Datang di Wilayah Demak, berjarak tak jauh dari sana di kiri jalan akan terlihat plang besar Wisata Bahari Morosari. Jarak Pantai Morosari dari jalan raya ± 3 km dengan menyusuri jalan yang lurus tanpa berbelok. Tidak perlu takut kesasar karena terdapat beberapa plang yang menunjukkan lokasi Wisata Pantai Morosari.

resize IMG_20170417_072610-01

Waroung Apoeng Morosari.

resize PicsArt_04-19-10.46.38

Mengejar Sunrise

Tempat pertama yang saya kunjungi untuk melihat sunrise yang sudah naik tinggi ini selain pantai juga terdapat Waroung Apoeng Morosari. Menurut warga, Waroeng Apoeng kalo hari-hari biasa memang tutup karena pengunjungnya tidak sebanyak saat hari libur. Waroeng Apoeng juga menjadi salah satu icon yang dipilih pemda untuk promosi. Sayangnya, saya tidak bisa ikut menikmati masakan khas Morosari diatas laut.

Kantor yang biasanya dibuka untuk registrasi pengunjung pagi itu juga nampak sepi. Hanya nelayan-nelayan yang banyak berkumpul di pinggir pantai. Tidak butuh waktu lama disini selain mengambil gambar, karena loketnya pun masih tutup. Saya beralih ke lokasi kedua yang masih satu wilayah.

Wisata Religi Makam Syech Mudzakir

Lokasi kedua ini tidak jauh dari Pantai Morosari. Wisata yang kedua ini boleh dibilang sebagai Wisata Religi. Banyak peziarah yang datang dari berbagai penjuru untuk berdoa di makam Syech Mudzakir. Makam Syech Mudzakir berada di Desa Tambaksari. Uniknya makam Syech Mudzakir berada di atas laut. Untuk menuju makam beliau, pengunjung harus melewati jalan penghubung dari dataran sampai tengah laut ± 1 km dari dataran. Tenang saja pengunjung diperbolehkan untuk membawa kendaraan bermotor menuju lokasinya. Jalannya memang sempit, hanya bisa dilewati untuk dua motor dari dua arah. Itupun harus hati-hati karena mepet banget. Setelah sampai di ujung pintu masuk, pengunjung akan disuguhi rimbunnya tanaman mangrove. Keadaannya masih sama seperti saat pertama kalinya saya kesini. Sebelum berjalan masuk ke Desa Tambaksari yang nantinya terhubung ke lokasi makam Syech Mudzakir, terdapat kotak amal yang disediakan warga untuk membangun jalanan yang rusak atau kebutuhan lainnya yang berhubungan dengan makam Syech Mudzakir.

Ada juga tulisan mengenai larangan-larangan tertentu seperti dilarang berfoto-foto di makam Syech Mudzakir. Jika membawa kamera untuk dibawa masuk harus ijin dan hanya handphone yang diperbolehkan dibawa. Jangan pernah membawa kamera secara sembunyi-sembunyi!

resize IMG_20170417_080739

Jalan Menuju Makam Syech Mudzakir. Disana juga ditinggali oleh 8 Kepala Keluarga yang masih bertahan.

resize PicsArt_04-19-10.48.59

Jalan menuju Makam Syech Mudzakir melewati kawasan Mangrove. Di pinggir jalan diberikan tong sampah supaya pengunjung atau peziarah tidak membuang sampah sembarangan.

resize PicsArt_04-19-11.10.32

Ada juga plang yang menunjukkan untuk menjaga kebersihan.

resize PicsArt_04-19-10.52.26

Salah satu puing bangunan yang terkena abrasi sebelum masuk kawasan mangrove menuju makam Syech Mudzakir

resize PicsArt_04-19-10.50.40

Kubah Berwarna Hijau tersebut adalah batas dimana pengunjung atau peziarah tidak boleh mengambil foto. Foto diambil pagi hari.

resize IMG_20160722_173856

Lokasi yang sama dengan diatas. Foto diambil sore menjelang maghrib.

resize IMG_20160722_172444

Suasana Sunset

 Legenda Seputar Makam Syech Mudzakir

Syech Mudzakir adalah salah satu pejuang kemerdekaan dan ulama besar pada periode 1900 – 1960an. Beliau lahir di Desa Worogin Jajar Kecamatan Mranggen. Syech Mudzakir belajar memperdalam agama Islam dan menyebarkannya di peisir pantai Sayung, Demak. Beliau sangat disegani bahkan ditakuti oleh Belanda di kala itu. Ketika meninggal, beliau dimakamkan di Desa Tambaksari, Sayung, Demak.

Beberapa tahun lalu ketika Desa Tambaksari terkena abrasi yang hampir menenggelamkan seluruh kampung, makam Syech Mudzakir tetap tak tergoyahkan. Makam Syech Mudzakir tetap bertahan di tengah pasang atau naiknya air laut. Seolah-olah tanah tersebut otomatis menjaga supaya makam Syech Mudzakir tetap berada disana tanpa terhempas ombak pantai.

makam syech mudzakir

Foto makam yang nampak dari kejauhan

Setelah terjadi bencana abrasi di Desa Tambaksari, sebanyak 66 Kepala Keluarga diinstruksikan Bupati pada jamannya untuk direlokasi. Tetapi hanya 60 Kepala Keluarga yang mengikuti instruksi Bupati, 6 Kepala Keluarga diantaranya tetap bertahan meskipun harus tinggal di tengah laut. Sekarang pada tahun 2017 jumlahnya bertambah menjadi 8 Kepala Keluarga yang bertahan. Mereka mengelola, merawat dan menjaga makam Syech Mudzakir.

Wisata Hutan Mangrove dan Desa Tenggelam

Kurang lengkap rasanya bila datang ke Morosari tapi tidak berkunjung ke Hutan Mangrove dan Desa Tenggelam. Untuk menuju ke lokasi tersebut, warga setempat menyewakan perahu yang bisa ditumpangi maksimal 8 orang. Tarif untuk menyewa perahu satu orang sebesar Rp 15.00,00. Bisa juga menyewa satu perahu kalo datang sendiri seperti saya 😀 (Apes bener deh ya) Setelah banyak ngobrol sama warga setempat, mereka berbaik hati memberikan tarif yang lumayan miring sebesar Rp 50.000,00. Tarif tersebut sudah lengkap diajak keliling Hutan Mangrove dan Desa Tenggelam sambil diceritain ini itu. Ketika saya tanya kenapa kok disebut Desa Tenggelam? Karena terkena bencana abrasi, Desa Tambaksari yang berjumlah 66 Kepala Keluarga waktu itu diinstruksikan untuk relokasi. Sampai sekarang yang masih tersisa dari Desa tersebut adalah sebuah masjid yang berdiri tegak di tengah pantai. Konon, ketika hari raya besar masjid tersebut seperti ada suara takbir.

Masjid desa tenggelam

Masjid yang tersisa di Desa Tenggelam

Dalam Hutan Mangrove sendiri banyak sekelompok burung Bangau Putih yang masih terus berkembangbiak dengan baik disana. Untuk menuju lokasi Hutan Mangrove, jika dari Desa Tambaksari membutuhkan waktu ±5 menit naik perahu. Jarak yang lumayan dekat sehingga perjalanannya terasa sangat singkat.

resize PicsArt_04-19-10.55.47

Wisata Hutan Mangrove. Terdapat jembatan untuk pengunjung yang berwisata.

Sekali mendayung, dua tiga pulau pun terlampaui.

Wisata Pantai Bahari Morosari, Wisata Religi Makam Syech Mudzakir, Hutan Mangrove dan Desa Tenggelam mejadi daya magnet tersendiri. Pengunjung bisa memilih obyek mana yang diinginkan karena semuanya punya saya tarik sendiri. Setelah mengamati beberapa jam di sana, wisata yang paling ramai dikunjungi adalah Wisata Religi Makam Syech Mudzakir. Peziarah dari berbagai daerah terus berdatangan tanpa mengenal waktu libur atau tidak.

Narasumber sendiri mengatakan kalo ziarah itu tidak bisa ditentukan waktunya. Ada juga yang ziarah pukul 3.00 dini hari, mereka biasanya dari luar kota. Jarak tempuh yang membutuhkan waktu lama karena bisa saja macet di jalan membuat warga siap menyambut peziarah sewaktu-waktu. Jika rombongan ingin menyewa perahu dari darat menuju makam Syech Mudzakir pada jam yang seharusnya untuk istirahat itu sudah resikonya.

resize IMG_20170417_110211

Pemandangan saat Naik Perahu. Udah kayak ngeliput di acara jejak petualang 😀

Buat yang punya hobi mengulik sejarah dan suka foto, pastinya jangan sampai melewatkan Wisata Hutan Mangrove dan Desa Tenggelam dengan menyewa perahu. Kalo mau dapat harga murah, datengnya rombongan jadi pemilik perahu nggak bingung juga kasih harga kayak saya yang datang sendiri. Pintar melobi adalah koentji! 🙂

foto hutan mangrove

Selamat Meng-explore Wisata Demak!

Narasumber: Terimakasih untuk Pak Wahid, Warga Tambaksari.

Note:

Tulisan Ini diikutsertakan dalam lomba Blog Legenda Pariwisata Jawa Tengah 2017 yang diselenggarakan oleh Dinas Kepemudaan, olahraga dan pariwisata Provinsi Jawa Tengah.

One Response

  1. kiya 20/04/2017

Leave a Reply

counter free hit invisible